DAYAK JAWANT
Kalimantan Barat merupakan sebuah
Provinsi yang sangat kaya akan Sumber Daya Alam dan merupakan provinsi yang
cukup majemuk karena diketahui oleh orang Kalimantan Barat sendiri ada tiga
Suku Bangsa besar yang mendiami provinsi ini yakni Melayu, Dayak, dan Etnis
Cina. Khusus pada suku dayak, banyak terdapat sub suku dayak di provinsi
ini. "Kata Dayak sendiri selain berasal dari bahasa Dayak
Kendayan, juga berasal dari bahasa Dayak kenyah dan Dayak lainnya, yakni dari
istilah kata ” Daya”
yang memiliki dua arti yakni “daerah hulu” dan “kekuatan“. ketika ada orang lain yang menanyai
seseorang yang hendak ke daerah hulu dimasa lampau dengan kalimat dalam bahasa
Dayak Kendayan seperti ini: Ampus Ka mane kau? maka akan di jawab oleh orang
yang di tanyai sebagai berikut: Aku Ampus ka daya…yang artinya ” pergi ke mana
kau? aku pergi ke hulu”. Dimasa dahulu dalam naskah-naskah Jawa kuno pulau
kalimantan disebut “Nusa Kencana” yang bearti pulau emas, namun oleh orang Jawa
kebanyakkan lebih sering disebut “Tanah Sabrang” penghuninya adalah “Orang Sabrang” sebutan orang Dayak oleh orang
Jawa di masa lampau".
Salah
satu sub suku dayak tersebut adalah Sub Suku Dayak Jawant ( Jawa + NT )
adalah nama sub suku Dayak yang sebagian besar mendiami daerah aliran sungai
menterap Kecamatan Sekadau Hulu Kabupaten Sekadau Kalimantan Barat.
Hal
yang identik dengan sub suku ini adalah DAS ( Daerah Aliran Sungai ) Menterap
yang merupakan anak sungai dari Sungai Sekadau, karena sebagian besar sub suku
ini mendiami kampung-kampung di sekitar DAS sungai Menterap seperti Roca,
Boti, Sulang Botong, Mondi, Nate Kelampe, Tapang Birah, Gintong, Engkorong,
Sungai Gontin, Bongkit dan Sengiang.
Sungai
mentrap
Salah satu peninggalan Kebudayaan Jawant
saat ini adalah Rumah Pasah semacam musium kampung dimana segala macam
sisa-sisa barang-barang kuno disimpan. (termasuk sisa jarahan para pemburu
barang-barang antik) yang terletak di Kampung/Desa Boti, yang merupakan kampung
tertua di antara kampung-kampung Jawant lainnya. Selain itu banyak lagi bentuk
kebudayaan asli suku dayak Jawant yang masih terpelihara dengan baik hingga
saat ini seperti Upacara "Nyapat Taun" yakni sebuah upacara
ucapan syukur atas keberhasilan panen padi yang diselenggarakan di sekitar
bulan Mei-Juni setiap tahunnya. Kemudian upacara adat menyambut tamu, saat
menyambut tamu kehormatan yang akan datang di kampung orang Dayak Jawant.
Selain Jawant sebagai nama Sub Suku
Dayak, Jawant sendiri adalah nama bahasa yang merupakan salah satu bahasa yang
terbesar jumlah penuturnya di Kecamatan Sekadau Hulu, selain bahasa-bahasa
dayak lainnya. Bahasa ini memiliki fonologi sendiri, dan mengenai fonologi
bahasa Dayak Jawant.
1. Kehidupan Sosial Ekonomi
![]() |
| petani karet |
![]() |
| petani padi |
Kehidupan
masyarakat menghandalkan pertanian tradisional dan perkebunan karet. Rata-rata
cukup untuk kebutuhan hidup mereka bahkan ada yang lebih sehingga stok padi tak
pernah habis. Karet juga menjadi penghasilan utama. Rata-rata sebulan bisa
menghasilkan puluhan ton karet. Sayang bahwa harga karet akhir-akhir ini terus
merosot tertimpa krisis global. Meskipun demikian mereka tetap eksis dalam soal
perekonomian bila dibandingkan dengan daerah-daerah lain. Kelemahannya bahwa
mereka kurang teliti mengatur pola ekonomi rumah tangga sehingga
kebutuhan-kebutuhan vital kurang diperhatikan. Misalnya: acara gawai kampong
sungguh luar biasa pengeluaran setiap rumah sehingga diperkirakan beberapa ton
daging hanya untuk acara gawai. Perhitungannya seperti ini kalau satu rumah
memotong daging paling kurang 20kg dikalikan 200 rumah maka ada 4000 kg daging
hanya untuk gawai satu kampong. Perhitungan ini di luar mereka yang memotong
daging babi lebih dari 20 kg. Ini berdasarkan analisa ekonomi tapi dari sudut
pandang adat istiadat dan budaya maka akan sangat berbeda karena ada nilai plus
buat mereka. Moment ini berguna untuk mengumpulkan sanak saudara dari tempat
yang jauh.
2. Hidup Religiositas
Nenek moyang orang Jawant punya hidup religiositas. Mereka menyembah kepada Duata Petara (Allah nenek moyang mereka) yang digambarkan dalam bentuk patung belian seperti gambar di bawah ini.
Upacara pemujaan
![]() |
Upacara pemujaan dilakukan dalam jangka waktu
5 tahun sekali atau sewaktu-waktu kalau terjadi masalah besar seperti tertimpa
wabah penyakit. Mereka bisa laksanakan 10
hari 10 malam. Semua orang Jawant mengahadiri upacara tersebut. Efek dari
upacara ini supaya kampong dan orang suku Jawant selamat dari bencana penyakit
dan bencana lainnya.
Manusia dalam
hubungannya dengan Tuhan, alam dan sesama tidak luput dari kesalahan. Jika
kesalahan dilakukan dengan sesamanya biasanya diselesaikan dengan jalan damai ataupun
dengan hukum sesuai aturan yang berlaku. Tetapi jika kesalahan dilakukan
terhadap Tuhan ataupun alam, penyelesaiannya dilakukan menurut ajaran agama
ataupun adat istiadat. Masyarakat adat Dayak misalnya, mempunyai cara
tersendiri dalam memulihkan hubungannya dengan Tuhan dan alam. Pada masyarakat
Dayak Jawant dinamakan Ngisi’ Pamali.
Acara
ngisi’ pemali
Pamali (hal yang tidak
boleh dilakukan baik dengan sengaja ataupun tidak sengaja) menurut masyarakat
adat yang mendiami Kampung Roca, Boti, Sulang Botong, Mondi, Nate Kelampe,
Tapang Birah, Engkorong, Sungai Gontin, Bongkit dan Sengiang ini, ada dua adat
pamali, yaitu Pamali Uma dan Pamali Rumah Tangga’.
Pamali Uma (pamali dalam berladang) bisa
berupa barobut pantap tikap bapancang tongah uma (perselisihan yang terjadi di
ladang), padi terbakar ataupun dilanggarnya pantang lain. Sedangkan Pamali
Rumah Tangga’ (pamali di dalam rumah) dapat berupa terbakar atau dibakarnya
perabot rumah seperti tempat tidur, bantal, selimut, pakaian ataupun bagian dari
rumah. Jika salah satu dari pamali itu dilanggar maka untuk pemulihannya harus
dibayar adat Ngisi’ Pamali.
Pamali
Uma biasanya dibayar saat nugal (menanam) atau nugal bonih campor. Dalam
pelaksanaannya sedikit berbeda dengan Ngisi’ Pamali Rumah Tangga’. Jika pamali
rumah tangga’ harus dikobo diibu, sedangkan Pamali Uma cukup dengan menyembelih
ayam ke benih yang akan ditanam dan setelah selesai nugal baru Ngisi’
Pamalinya.
Yang
harus disiapkan sebelum mengadakan upacara adat tersebut adalah adat delapan be
ikong be kapala yang disebut kurong semongat. Adat delapan terdiri dari 8 poku
(24 buah) mangkuk adat ditambah dengan 4 buah mangkuk adat diisi dengan beras
lalu satu potong besar ayam. Sedangkan ekor dan kepala adat itu adalah satu
buah tempayan dan kain belacu’. Selain sarana adat di atas juga disiapkan 1
ekor ayam, penyemongat (keranjang kecil yang nantinya dipakai sebagai tempat
semongat) diisi dengan beras dalam gantang.
Adapun
tahapan pelaksanaannya dimulai dengan bakobo, yaitu berdoa memohon kepada Dota
Patara (Tuhan, Red.) serta menyampaikan ujud dari pelaksanaan adat tersebut.
Bakobo biasanya menggunakan ayam. Setelah dikobo, ayam tersebut dipotong dan
dimasak. Setelah ayam masak selanjutnya disiapkan timbak penara’ (persembahan
kepada Dota Patara). Tiga orang tetua lalu menjalankan timbak penara’ itu. Satu
dijatuhkan ke penyemongat, satu ke selimut yang terbakar dan yang satunya lagi
ke tanah. maksud dari bakobo dan timbak
penara’ itu sangat besar dan penting, karena penyampaian ujud-ujud dalam upacara
itu dan sekaligus untuk memulihkan kembali hubungan antara manusia dengan Tuhan
dan alam yang telah terganggu. Setelah panara’ dijatuhkan dilanjutkan dengan
acara makan minum. Setelah makan minum selesai, baru adat dibagikan. “Adat itu
tidak hilang, hanya beras adat dan mangkuknya yang dibagikan,” . jika ada tiga
mangkuk ada yang berisi beras dan daging ayam yang dibagikan, yang pertama
diserahkan kepada pembawa adat, lalu kepada tuan rumah dan kepada satu orang
lain yang dipercaya menerima penyerahan adat. Setelah adat diserahkan, beras
adat dihamburkan dan ditaburi di kepala seluruh anggota keluarga dengan
disertai doa-doa sebagai wujud keselamatan sekaligus penutup acara adat
tersebut.
Sikap
Terbuka Suku Dayak Jawant
Sikap
terbuka suku Dayak tercermin dalam berbagai budayanya. Dalam subsuku Dayak
Jawant misalnya, sikap tersebut salah satunya ditunjukkan dengan adat menyambut
tamu. Berikut ini penuturan Lodok, Menteri Adat Desa Mondi, Kecamatan Sekadau
Hulu, Kabupaten Sekadau.
Ketika akan ada pejabat atau tamu agung lainnya datang ke kampungnya, orang Dayak Jawant selalu mengadakan acara sebagai penyambutan dan penghormatan terhadap tamu tersebut. Biasanya sehari sebelum kedatangan tamu tersebut warga kampung beramai-ramai membangun bale pananti’, yakni bangunan sementara serupa panggung yang didirikan di tengah jalan. Jika tidak cukup persiapan, hari itu juga beberapa orang warga datang ke rumah warga lainnya untuk meminta sumbangan tuak, arak atau lauk pauk untuk keperluan acara keesokan harinya. Namun jika dipersiapkan jauh hari, warga mengumpulkan uang, tuak dan beras lalu dimasak secara gotong-royong pada hari itu.
Pada hari kedatangan tamu, warga berbondong-bondong berkumpul di jalan menuju ke bale pananti’ tersebut. Beberapa orang tetua kampung, penari, pembawa jondar (sejenis kalung terbuat dari kulit kayu dan di hiasi lukisan motif Dayak, Red.) berada pada posisi paling depan untuk menyambut tamu. Sementara itu alat musik tradisional pun disiapkan.
Pada saat tamu datang langsung di kalungkan dengan jondar dan musik pun dimainkan, kemudian dengan didampingi para tetua tamu tersebut berjalan sambil menari menuju ke arah bale pananti’. Sepanjang jalan menuju ke bale pananti’ tamu tersebut diberi minum tuak dan disalami penduduk setempat sebagai ucapan selamat datang. Sementara itu seorang tetua adat telah berada di atas bale pananti’. Tetua adat tersebut membacakan mantra sambil menghamburkan beras kuning kepada tamu yang baru datang. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat yang di kampung tersebut serta tamu yang datang mendapat lindungan dari Dota Patara (Tuhan, Red.). Sesampai di depan bale pananti’ tamu tersebut harus memotong buluh muda’ (bambu yang masih muda, Red.) dengan menggunakan nyabor (mandau).
Setelah memotong buluh muda’ tamu boleh naik ke bale. Pada tangga pertama bale diletakkan telur yang harus diinjak sampai pecah oleh tamu, dimaksudkan agar tamu tersebut dilindungi jika ada larangan yang terlanggar. Selanjutnya pada lantai bale pananti’ diletakkan talam yang berisikan air, batu dan ditancap sumpit yang diikat dengan sabok (kain tenun yang diperuntukkan bagi upacara adat, Red.) serta di sediakan pelita yang bernyala. Tamu yang datang harus menginjak talam tersebut dan memegang sabok. Dalam hal ini air mempunyai makna kesejahteraan bagi kampung yang didatangi, batu bermakna persatuan/persaudaraan yang kuat bagi tamu dan masyarakat di kampung tersebut, sumpit bermakna agar tamu dan masyarakat kampung selalu diberikan umur yang panjang dan pelita sebagai lambang penerangan.
Setelah itu tamu dengan dituntun para tertua kampung menari mengelilingi bale pananti’ sebanyak tiga kali. Setelah itu acara dilanjutkan dengan makan minum di atas bale tersebut. setelah selesai acara makan minum barulah tamu boleh memasuki kampung.
Ketika akan ada pejabat atau tamu agung lainnya datang ke kampungnya, orang Dayak Jawant selalu mengadakan acara sebagai penyambutan dan penghormatan terhadap tamu tersebut. Biasanya sehari sebelum kedatangan tamu tersebut warga kampung beramai-ramai membangun bale pananti’, yakni bangunan sementara serupa panggung yang didirikan di tengah jalan. Jika tidak cukup persiapan, hari itu juga beberapa orang warga datang ke rumah warga lainnya untuk meminta sumbangan tuak, arak atau lauk pauk untuk keperluan acara keesokan harinya. Namun jika dipersiapkan jauh hari, warga mengumpulkan uang, tuak dan beras lalu dimasak secara gotong-royong pada hari itu.
Pada hari kedatangan tamu, warga berbondong-bondong berkumpul di jalan menuju ke bale pananti’ tersebut. Beberapa orang tetua kampung, penari, pembawa jondar (sejenis kalung terbuat dari kulit kayu dan di hiasi lukisan motif Dayak, Red.) berada pada posisi paling depan untuk menyambut tamu. Sementara itu alat musik tradisional pun disiapkan.
Pada saat tamu datang langsung di kalungkan dengan jondar dan musik pun dimainkan, kemudian dengan didampingi para tetua tamu tersebut berjalan sambil menari menuju ke arah bale pananti’. Sepanjang jalan menuju ke bale pananti’ tamu tersebut diberi minum tuak dan disalami penduduk setempat sebagai ucapan selamat datang. Sementara itu seorang tetua adat telah berada di atas bale pananti’. Tetua adat tersebut membacakan mantra sambil menghamburkan beras kuning kepada tamu yang baru datang. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat yang di kampung tersebut serta tamu yang datang mendapat lindungan dari Dota Patara (Tuhan, Red.). Sesampai di depan bale pananti’ tamu tersebut harus memotong buluh muda’ (bambu yang masih muda, Red.) dengan menggunakan nyabor (mandau).
Setelah memotong buluh muda’ tamu boleh naik ke bale. Pada tangga pertama bale diletakkan telur yang harus diinjak sampai pecah oleh tamu, dimaksudkan agar tamu tersebut dilindungi jika ada larangan yang terlanggar. Selanjutnya pada lantai bale pananti’ diletakkan talam yang berisikan air, batu dan ditancap sumpit yang diikat dengan sabok (kain tenun yang diperuntukkan bagi upacara adat, Red.) serta di sediakan pelita yang bernyala. Tamu yang datang harus menginjak talam tersebut dan memegang sabok. Dalam hal ini air mempunyai makna kesejahteraan bagi kampung yang didatangi, batu bermakna persatuan/persaudaraan yang kuat bagi tamu dan masyarakat di kampung tersebut, sumpit bermakna agar tamu dan masyarakat kampung selalu diberikan umur yang panjang dan pelita sebagai lambang penerangan.
Setelah itu tamu dengan dituntun para tertua kampung menari mengelilingi bale pananti’ sebanyak tiga kali. Setelah itu acara dilanjutkan dengan makan minum di atas bale tersebut. setelah selesai acara makan minum barulah tamu boleh memasuki kampung.
trimakasih benyak untuk para pengunjung.
mohon maaf jika ada kata-kata yang menjadikan permasalahan.
ini penulis lakukan agar kebudayaan yang ada saat ini selalu terjaga..
penulis menyadari' semua ini jauh dari pada sempurna untuk itu kritik dan saran yang membangun penulis harapkan, agar bisa menulis lebih sempurna lagi..
ferdhy (085750000575)





